Pesantren dan Tantangan Generasi Digital

H. M. Nailur Rochman

Generasi Digital

Generasi digital tumbuh dengan layar di genggaman. Informasi datang lebih cepat daripada adab sempat diajarkan. Bagi pesantren, ini bukan alasan untuk mundur. Ini undangan untuk hadir dengan cara yang lebih sadar.

Santri hari ini membaca kitab di pagi hari, lalu membuka dunia yang lain di petang hari. Jika kedua ruang itu tidak dihubungkan, yang muncul adalah pecahnya kepribadian: saleh di pondok, liar di linimasa.

Bukan Melawan Teknologi, Melainkan Menuntunnya

Teknologi itu pisau. Ia tidak otomatis merusak, dan tidak otomatis menolong. Yang menentukan adalah tangan yang memegangnya. Maka tugas pendidik bukan mengutuk gawai, melainkan menanamkan niat, ukuran, dan batas.

Di kelas maupun di asrama, percakapan tentang media sosial perlu sama wajarnya dengan percakapan tentang nahwu. Bukan karena media sosial lebih penting, tetapi karena di situlah banyak ujian karakter berlangsung diam-diam.

Tiga bekal untuk generasi layar

Pertama, literasi niat: untuk apa sebuah unggahan dibuat. Kedua, literasi sumber: mana berita, mana fitnah. Ketiga, literasi waktu: kapan cukup, kapan harus berhenti.

Pesantren yang mampu mengajarkan tiga bekal itu tidak kalah modern. Ia justru lebih siap, karena fondasinya bukan tren, melainkan adab.

Wallahu a’lam bishawab.

Baca Ini Juga

Artikel

Lainnya